Setuju atau tidak, sekolah-sekolah yang berada di seluruh penjuru tanah air memiliki kurikulum dengan tujuan utama menciptakan para pencari kerja. Bukan pencipta lowongan pekerjaan. Apakah kurikulum ini salah?, tidak ada yang salah. Karena hidup ini tergantung siapa yang memilih. Kalau memang seluruh penduduk negeri ini disiapkan untuk mencari kerja, kurikulum saat ini sudah sangat tepat.
Tetapi perlu diketahui, sumber daya alam yang melimpah tidak akan dapat dinikmati oleh pekerja tetapi dinikmati oleh pengusaha. Artinya dengan kurikulum yang memiliki jiwa semangat mencari pekerjaan hanya akan mengantarkan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat kelas bawah, walaupun di negeri sendiri. Lalu apa yang harus dilakukan?, merubah orientasi kurikulum pendidikan. Dari berorientasi mencari pekerjaan menjadi berorientasi pencipta lapangan pekerjaan. Bagaimana caranya?. Kemanapun suatu bangsa akan berlayar, bukan ditentukan oleh jenis kapal yang dipakai atau medan yang akan ditempuhnya. Tetapi semuanya bermula dari jiwa. Ia, jiwa seorang pengusaha. Kurikulum harus mampu membangkitkan semangat berwirausaha para siswa yang didukung dengan pengetahuan-pengetahuan untuk mengantarkan seseorang menjadi pengusaha yang sukses.


